Makalah tentang aliran Nu dan
Muhammadiyah
B A
B I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR
BELAKANG
Gerakan pembaharuan merupakan suatu
perkumpulan terstruktur yang mempunyai misi sebagai pembenahan pemahaman,
kepercayaan ataupun agama untuk menjadikan ke depan lebih baik. Gerakan
tersebut sangat berarti eksistensinya, terutama dalam memperjuangkan dan menyempurnakan
agama. Agama islam misalnya, membutuhkan gerakan tersebut tidak lain supaya
keberadaannya tetap ada dan tidak terhapus dari alam (hilang / musnah).
Gerakan ini tidak mungkin seluruh
dunia ini sama dan selaras pemahamannya. Hal ini dikarenakan cara pandang
individu atau kelompok yang sangat majemuk dan kompleks dalam memahami sesuatu.
Perkembangan dan keadaan zaman membuat dua pedoman hidup dinul islam, Al-Qur’an
dan Hadits mengalami perubahan dalam menafsirkannya. Dikarenakan timbul
penafsiran yang berbeda-beda sehingga memunculkan beberapa para penafsir yang
sangat kompleks. Kemajemukan pemahaman ini yang kemudian para penafsir itu
menyebarluaskan argumennya kepada masyarakat yang semakin lama semakin besar
dan membentuk suatu komunitas yang disebut gerakan pembaharu.
Di indonesia, gerakan pembaharu
bermacam-macam. Namun yang paling termasyhur dan terkenal hanya ada dua: NU dan
Muhammadiyah. Antara keduanya memiliki visi, misi, cara pandang dan tujuan yang
berbeda satu sama lain. Walaupun begitu, mereka tidak bertentangan dengan
landasan pokok atau syari’at agama islam. Dengan adanya gerakan pembaharu
tersebut, ciri dan kemajemukan Indonesia akan ke-bhineka tunggal ika-nya
sungguh terasa di masyarakat dan menjadi pengoreksian atas tafsiran-tafsiran
agama islam dan menjadikan ke depan lebih baik.
1.2. RUMUSAN
MASALAH
1) Bagaimana
sejarah berdirinya organisasi Muhammadiyah, NU, dan kelompok Harakah?
2) Apa
saja bentuk pemikiran-pemikiran masing-masing organisasi tersebut?
3) Apa
tujuan dari organisasi-organisasi yang di jelaskan dalam makalah ini?
1.3. TUJUAN
1) Mendeskripsikan
bagaimana sejarah berdirinya organisasi Muhammadiyah, NU, dan kelompok Harakah.
2) Menjelaskan
bentuk pemikiran-pemikiran dari masing-masing organisasi tersebut.
3) Agar
mahasiswa mampu memahami tujuan pemahaman dari organisasi-organisasi tersebut.
B A
B II
PEMBAHASAN
2.1. ORGANISASI
MUHAMMADIYAH
2.1.1. SEJARAH BERDIRINYA
MUHAMMADIYAH
Organisasi
Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta pada tanggal 8 Dzulhijjah tahun 1330
Hijriyah atau 18 Nopember 1912 Masehi[1]. Organisasi ini didirian oleh KH Ahmad
Dahlan dan merupakan salah satu organisasi islam yang tertua[2]. Muhammadiyah bersama Nahdlatul Ulama
(NU) sering disebut sebagai dua pilar atau sayap islam di Nusantara[3].
Nama
kecil KH Muhammad Dahlan ialah Muhammad Darwis. Semasa kecilnya, Muhammad
Darwis tak pernah pergi ke sekolah. Ayah Darwis sendirilah yang mendidiknya,
seperti mengaji sebelum mengirimkannya ke ulama lain untuk memperdalam
agamanya. Kemudian ia menuntut ilmu di Mekkah dan melaksanakan ibadah haji pada
tahun 1890 saat ia berusia 22 tahun. Setelah melaksanakan haji, ia berganti
nama menjadi Ahmad Dahlan. Beliau pernah berguru selama 2 tahun kepada Syekh
Ahmad Chatib, ulama kelahiran Bukittinggi yang berkedudukan di Masjid Al-Haram
sebagai imam mazhab Syafii. Beliau juga diperkenalkan kepada Hasyim Asy’ari,
yang kelak menjadi pendiri NU[4].
Sekembalinya
dari Mekkah, beliau mulai mempraktekkan ilmu falak (astronomi) di Yogya. Hal
yang pertama yang beliau coba ialah mengenai arah kiblat shalat. Saat itu, di
Indonesia orang melakukan shalat persis menghadap ke barat. Padahal, menurut
perhitungan Dahlan, seharusnya agak ke utara sedikit. Ketika beliau mencoba
membuat garis shaf baru di masjid Kesultanan Yogyakarta, penghulu masjid
menjadi murka. Penghulu tersebut bersama anak buahnya berniat merusak surau
Dahlan. Karena peristiwa itu, Dahlan berniat hijrah dari Yogya, namun Kyai
Shaleh, kakak iparnya mengurungkan niatnya. Kemudian Dahlan menyebarkan
fatwa-fatwanya tersebut sambil berdagang.
Tahun
1909 beliau masuk ke Budi Utomo. Mengingat anggota Budi Utomo umumnya akan
bekerja di pemerintahan, beliau berharap dapat mengajarkan agamanya di
sekolah-sekolah pemerintah. Harapan tersebut disambut mantap oleh kalangan Budi
Utomo karena ajaran Dahlan membuat islam terasa selaras dengan cara berfikir
anggota perkumpulan itu.
Pada
suatu saat, mereka menganjurkan agar Dahlan membentuk organisasi bagi
penyebaran pahamnya. Alhasil, pada tanggal 18 Nopember 1912, Muhammadiyah resmi
berdiri. Ada dua tujuan berdirinya Muhammadiyah ini:
a. Menyebarkan
pengajaran Kanjeng nabi Muhammad SAW kepada penduduk bumiputra di dalam regentie Djogjakarta[5].
b. Memajukan
hal agama islam kepada anggota-anggotanya.
Dalam
perkembangannya, Muhammadiyah terus saja membangun sekolah, masjid, poliklinik,
dan kegiatan sosial lainnya. Muhammadiyah memang sudah menjadi kultur, bukan
lagi organisasi. Seperti yang dikatakan oleh Taufik Abdullah, organisasi
pembawa tradisi pembaruan Islam di Indonesia[6].
2.1.2. PEMIKIRAN-PEMIKIRAN
MUHAMMADIYAH
Muhammadiyah adalah
sebuah organisasiIslam yang besar di Indonesia. Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW. sehingga Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai
orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.
Tujuan utama
Muhammadiyah adalah mengembalikan seluruh penyimpangan yang terjadi dalam proses dakwah. Penyimpangan ini
sering menyebabkan ajaran Islam bercampur-baur dengan kebiasaan di daerah
tertentu dengan alasan
adaptasi.
Gerakan
Muhammadiyah berciri semangat membangun tata sosial dan pendidikan masyarakat
yang lebih maju dan terdidik (ini dibuktikan dengan jumlah lembaga pendidikan
yang dimiliki Muhammadiyah yang berjumlah ribuan). Menampilkan ajaran Islam
bukan sekadar agama yang bersifat pribadi dan statis, tetapi dinamis dan
berkedudukan sebagai sistem kehidupan manusia dalam segala aspeknya. Akan
tetapi, ia juga menampilkan kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang ekstrem.
Dalam
pembentukannya, Muhammadiyah banyak merefleksikan kepada perintah-perintah Al Quran, diantaranya surat Ali Imran ayat 104 yang artinya :
“Dan hendaklah
ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang
beruntung”.
Ayat tersebut,
menurut para tokoh Muhammadiyah, mengandung isyarat untuk bergeraknya umat
dalam menjalankan dakwah Islam secara teorganisasi, umat yang bergerak, yang
juga mengandung penegasan tentang hidup berorganisasi. Maka dalam butir ke-6
Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah dinyatakan, melancarkan amal-usaha dan
perjuangan dengan ketertiban organisasi, yang mengandung makna pentingnya
organisasi sebagai alat gerakan yang niscaya[7].
Muhammadiyah yang merupakan sebuah
gerakan sosial keagamaan yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan ini tak lepas
dari gerakan pembaharuan dan suatu fenomena modern pada saat ini. Ciri kemodernan
ini, menurut Dr. M. Amien Rais, ada tiga hal pokok:
a. Bentuk
gerakannya yang terorganisasi.
b. Aktivitas
pendidikannya yang mengacu pada model sekolah modern untuk ukuran zamannya.
c. Pendekatan
teknologis yang digunakan dalam mengembangkan aktivitas organisasi terutama
amal usahanya.
Kendatipun Muhammadiyah lahir
sebagai suatu perwujudan dari suatu proses pemikiran yang mendalam, tetapi yang
diberikan Muhammadiyah kepada masyarakat bukanlah dalam bentuk gerakan
pemikiran semata-mata, akan terapi diaplikasikan berupa amal nyata di
tengah-tengah masyarakat[8].
Muhammadiyah adalah persyarikatan
yang merupakan Gerakan Islam. Maksud gerakannya ialah Dakwah Islam dan Amar
Ma'ruf nahi Munkar yang ditujukan kepada dua bidang, yaitu perseorangan dan
masyarakat. Dakwah dan Amar Ma'ruf nahi Munkar pada bidang pertama terbagi
kepada dua golongan, antara lain kepada yang telah Islam bersifat pembaharuan
(tajdid), yaitu mengembalikan kepada ajaran Islam yang asli dan murni; dan yang
kedua kepada yang belum Islam, bersifat seruan dan ajakan untuk memeluk agama
Islam.
Adapun da'wah Islam dan Amar Ma'ruf
nahi Munkar bidang kedua, ialah kepada masyarakat, bersifat kebaikan dan
bimbingan serta peringatan. Kesemuanya itu dilaksanakan dengan dasar taqwa dan
mengharap keridlaan Allah semata-mata.
Dengan melaksanakan dakwah Islam dan
amar ma'ruf nahi munkar dengan caranya masing-masing yang sesuai, Muhammadiyah
menggerakkan masyarakat menuju tujuannya, ialah "Terwujudnya masyarakat
Islam yang sebenar-benarnya"[9].
2.2. ORGANISASI
NAHDLATUL ULAMA’ (NU)
2.2.1. SEJARAH BERDIRINYA NAHDLATUL
ULAMA’ (NU)
Nahdlatul Ulama (Kebangkitan
Ulama atauKebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat NU, adalah sebuah organisasi Islam yang terbesar
diIndonesia.
Organisasi ini berdiri pada 31 Januari1926 oleh KH Hasyim
Asy’ari dan bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi.
Tujuan didirikannya NU adalah
menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah
kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Keterbelakangan baik secara mental,
maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia,
akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran
kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan
pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal
dengan "Kebangkitan Nasional". Semangat
kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana - setelah rakyat pribumi sadar
terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai
jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan.
Kalangan pesantren yang selama ini
gigih melawan kolonialisme, merespon kebangkitan nasional
tersebut dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatul
Wathan(Kebangkitan Tanah Air) pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau
dikenal juga dengan "Nahdlatul Fikri" (kebangkitan pemikiran),
sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari
situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar,
(pergerakan kaum saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki
perekonomian rakyat. Dengan adanyaNahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul
Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan
yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.
Suatu waktu Raja Ibnu Saud hendak
menerapkan asas tunggal yakni mazhab Wahabi diMekkah,
kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasanbermazhab dan
penghancuran warisan peradaban tersebut. Dengan sikapnya yang berbeda itu
kalangan pesantren dikeluarkan dari anggotaKongres Al Islam di Yogyakarta pada
tahun 1925.
Akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam
Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam
Internasional) di Mekkah yang akan mengesahkan keputusan tersebut.
Sumber lain menyebutkan bahwa K.H. Hasyim
Asy'ari, K.H. Wahab Hasbullah dan sesepuh NU
lainnya melakukan walk out.
Didorong oleh minatnya yang gigih
untuk menciptakan kebebasan bermazhab serta peduli terhadap pelestarian warisan
peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang
dinamakan Komite Hejaz, yang
diketuai oleh K.H. Wahab Hasbullah.
Atas desakan kalangan pesantren yang
terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di
dunia, maka Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya, hingga saat ini di
Mekkah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan mazhab mereka masing-masing.
Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil
memper-juangkan kebebasan bermazhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan
sejarah dan peradaban yang sangat berharga.
Berangkan komite dan berbagai
organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu
untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk
mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kyai, akhirnya muncul
kese-pakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama
(Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini
dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar.
Untuk menegaskan prisip dasar
organisasi ini, maka K.H. Hasyim Asy'ari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip
dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad
Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan
dalam khittah NU, yang dijadikan
sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang
sosial, keagamaan dan politik[10].
2.2.2. PEMIKIRAN-PEMIKIRAN NAHDLATUL
ULAMA’ (NU)
NU menganut paham Ahlussunah waljama'ah, sebuah pola pikir
yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis).
Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya al-Qur'an, sunnah, tetapi
juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir
semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu seperti Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu
Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi.
Kemudian dalam bidang fiqih lebih cenderung mengikuti mazhab: imam Syafi'i dan
mengakui tiga madzhab yang lain: imam Hanafi, imam Maliki,dan imam Hanbali sebagaimana
yang tergambar dalam lambang NU berbintang 4 di bawah. Sementara dalam bidang tasawuf,
mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan
antara tasawuf dengan syariat.
Gagasan kembali kekhittah pada tahun1984, merupakan momentum
penting untuk menafsirkan kembali ajaran ahlussunnah wal jamaah, serta
merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial.
Serta merumuskankembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil
kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.
Dalam menentukan basis pendukung
atau warga NU ada beberapa istilah yang perlu diperjelas, yaitu anggota,
pendukung atau simpatisan dan Muslim tradisionalis yang sepaham dengan NU. Jika
istilah warga disamakan dengan istilah anggota, maka sampai hari ini tidak ada
satu dokumen resmipun yang bisa dirujuk untuk itu. Karena sampai hari ini tidak
ada upaya serius di tumbuh NU di tingkat apapun untuk mengelola keanggotaannya.
Dari segi pendukung atau simpatisan ada dua cara melihatnya. Dari segi politik,
ini bisa dilihat dari jumlah perolehan suara partai-partai yang berbasis atau
diasosiasikan dengan NU, seperti PKBU, PNU, PKU, Partai SUNI, dan sebagian dari
PPP. Dari segi paham keagamaan maka bisa dilihat dari jumlah orang yang
mendukung dan mengikuti paham kegamaan NU. Maka dalam hal ini bisa dirujuk
hasil penelitian Saiful Mujani (2002) yiatu berkisar 48% dari Muslim santri
Indonesia. Suaidi Asyari (Nalar Politik NU & Muhammadiyah, 2009)
memperkirakan ada sekitar 51 juta dari Muslim santri Indonesia dapat dikatakan
pendukung atau pengikut paham keagamaan NU. Sedangkan jumlah Muslim santri yang
disebut sampai 80 juta atau lebih merupakan mereka yang sama paham keagamaannya
dengan paham kegamaan NU. Belum tentu mereka ini semuanya warga atau mau
disebut berafiliasi dengan NU. Mayoritas pengikut NU terdapat di pulau Jawa,
Kalimantan, Sulawesi dan Sumatra. Perkembangan terakhir pengikut NU mempunyai
profesi beragam yang sebagian besar dari mereka adalah rakyat jelata, baik di
kota maupun di desa. Mereka memiliki kohesifitas yang tinggi karena secara
sosial ekonomi memiliki problem yang sama, selain itu mereka juga sangat
menjiwai ajaran ahlususunnah wal jamaah. Pada umumnya mereka memiliki ikatan
cukup kuat dengan dunia pesantren yang merupakan pusat pendidikan rakyat dan
cagar budaya NU.
Basis pendukung NU ini mengalami
pergeseran, sejalan dengan pembangunan dan perkembangan industrialisasi, maka
penduduk NU di desa banyak yang bermigrasi ke kota memasuki sektor industri.
Maka kalau selama ini basis NU lebih kuat di sektor petani di pedesaan, maka
saat di sektor buruh di perkotaan, juga cukup dominan. Demikian juga dengan
terbukanya sistem pendidikan, basis intelektual dalam NU juga semakin meluas,
sejalan dengan cepatnya mobilitas sosial yang terjadi selama ini. Belakangan
ini NU sudah memiliki sejumlah doktor atau magister dalam berbagai bidang ilmu
selain dari ilmu ke-Islam-an baik dari dalam maupun luar negeri, termasuk
negara-negara Barat. Hanya saja para doktor dan magister ini belum dimanfaatkan
secara maksimal oleh para pengurus NU hampir di setiap lapisan kepengurusan NU.
Usaha-usaha yang dilakukan
organisasi NU antara lain:
1. Di
bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan
yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.
2. Di
bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai
Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan
luas.Hal ini terbukti dengan lahirnya Lembaga-lembaga Pendidikan yang bernuansa
NU dan sudah tersebar di berbagai daerah khususnya di Pulau Jawa.
3. Di
bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang
sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan.
4. Di
bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil
pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.Hal ini ditandai
dengan lahirnya BMT dan Badan Keuangan lain yang yang telah terbukti membantu
masyarakat.
5. Mengembangkan
usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas. NU berusaha mengabdi dan
menjadi yang terbaik bagi masyrakat.
Pertama kali NU terjun pada politik
praktis pada saat menyatakan memisahkan diri dengan Masyumi pada tahun 1952 dan
kemudian mengikutipemilu 1955. NU cukup berhasil dengan merahil
45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante. Pada masaDemokrasi Terpimpin NU dikenal sebagai
partai yang mendukung Sukarno. Setelah PKI memberontak, NU tampil sebagai salah satu
golongan yang aktif menekan PKI, terutama lewat sayap pemudanya GP Ansor.
Namun setelah reformasi 1998, muncul
partai-partai yang mengatasnamakan NU. Yang terpenting adalah Partai Kebangkitan Bangsa yang
dideklarasikan oleh Abdurrahman
Wahid. Padapemilu 1999 PKB memperoleh 51 kursi DPR
dan bahkan bisa mengantarkan Abdurrahman
Wahidsebagai Presiden RI. Pada pemilu 2004, PKB memperoleh
52 kursi DPR[11].
2.3. KELOMPOK
HARAKAH
2.2.3 Pengertian Kelompok Harakah
Dalam kamus Lisan al-Arab (1/614),
kata al-harakah berasal dari kata haruka, yang memiliki
arti lawan dari kata diam atau tidak bergerak, berarti ha-rakah adalah sesuatu
yang bergerak atau suatu gerakan.
Secara bahasa,
arti umum harakah adalah perpindahan tubuh dari satu tempat ke tempat tertentu menuju tempat lainnya. Hal tersebutmenandakan adanya langkah-langkah dan usaha-usaha
yang terus bergerak dari satu posisi menuju posisi yang lain atau
dari satu keadaan menuju keadaan yang lain.
Dari sini dapat difahami bahwa al-Harakah al-Islamiyyah berarti langkah-langkah,
usaha-usahadan gerakan-gerakan yang
bersifat Islami, yaitu berdasarkan asas-asas, aturan-aturan dan
nilai-nilai Islam, baik dalam tujuan, aqidah sikap maupun dalam suluknya.
Harakah Nahdhah Islamiyah, di ketuai
oleh Rashid Ganushi didirikan pada tahun 1981.
Harakah ini menamakan dirinya "
Harakah Suniyyah Untuk Masyarakat Islami"di singkat : HASMI Nama resmi
telah di pilih untuk menggambarkan dasar, sifat dan tujuan harakah. Sekedar
untuk menjelaskan gambaran tersebut, kami mencoba menjelaskan kandungan nama
ini sesingkat mungkin.
2.2.4 Visi dan Misi HASMI
Visi
Dengan slogan yang ada harakah ini memiliki visi sebagai pelopor untuk sebuah gerakan kebangkitan yang akan mengeluarkan umat islam dari keterpurukan menuju cahaya kejayaan. dan mengeluarkan setiap manusia dari problematika yang menjadi penyebab utama keterpurukan tersebut. sehingga terbentuklah tatanan masyarakat yang berazaskan pada aturan-aturan syariah yang aman sentosa.
Dengan slogan yang ada harakah ini memiliki visi sebagai pelopor untuk sebuah gerakan kebangkitan yang akan mengeluarkan umat islam dari keterpurukan menuju cahaya kejayaan. dan mengeluarkan setiap manusia dari problematika yang menjadi penyebab utama keterpurukan tersebut. sehingga terbentuklah tatanan masyarakat yang berazaskan pada aturan-aturan syariah yang aman sentosa.
Misi
Adapun misi utama kami adalah
"Berdirinya masyarakat Islami di Indonesia" yaitu masyarakat yang
secara kolektif atau perorangan dinaungi dan dituntun oleh norma-norma Islam
yang suci. Jalan pelaksanaan misi ini harus melalui pengentasan keter-purukan
ruhani dengan memfokuskan usaha-usaha kepada pensyi'aran ajaran Islam yang
benar, manhaj golongan yang selamat, Ahlussunnah wal Jama'ah.
Setiap ummat memiliki spesifikasi
problematikanya di setiap zaman dan tempat, dari sekian banyak problemetika,
maka ada beberapa problematika spesifik ummat ini (terutama Indonesia), yang
jika di perbaiki akan baiklah yang lainnya, dan jika setiap individu sepakat
untuk merombaknya yang dimulai dari dirinya sendiri, maka akan baiklah ummat
ini di kemudian hari..
Problematika ini kami tuangkan dalam satu paket slogan yang kami pilih untuk menjadi "INTI DA'WAH HASMI (INDAH)", yaitu :
1. Tegakkan Tauhid, Lenyapkan Syirik..!!
2. Terapkan Syari'at Allah..!!
3. Wujudkan Masyarakat Islami..!!
4. Hidupkan Sunnah, Matikan Bid'ah..!!
5. Tinggalkan Kemaksiatan..!!
Problematika ini kami tuangkan dalam satu paket slogan yang kami pilih untuk menjadi "INTI DA'WAH HASMI (INDAH)", yaitu :
1. Tegakkan Tauhid, Lenyapkan Syirik..!!
2. Terapkan Syari'at Allah..!!
3. Wujudkan Masyarakat Islami..!!
4. Hidupkan Sunnah, Matikan Bid'ah..!!
5. Tinggalkan Kemaksiatan..!!
2.2.5 Harakah
Cinta
Harakah cinta adalah harakah yang
didasarkan Cinta Kepada Allah dan Cinta karena Allah. Kerinduanku untuk
menemukan harakah ini terlalu kuat hingga terkapar lemah karena rindu. Kepakan
sayap-sayap kasih yang membawa misi perjuangan suci telah ternodai oleh
firqah-firqah yang menebar benih-benih perpecahan. Sebagian ayat menyatakan
mereka bangga dengan partainya, organisasinya, kelompoknya mereka terlihat
sama-sama bekerja untuk Islam tapi tak pernah mau bekerja sama untuk
mengibarkan Panji-panji Islam. Mereka sibuk mengusung bendera masing-masing dan
melupakan sunah perjuangan.
2.2.6 Pandangan
Harakah Islamiyyah terhadap Cobaan
Harakah
menganggap ujian dan musibah di jalan dakwah sebagai sebuah sunnatullah yang
tidak pernah meleset. Ini adalah sunnah yang berlaku umum, tidak ada
pengecualian bagi seorang mukallaf. Sesungguhnya kehidupan dunia adalah tempat
ujian, sedangkan akhirat adalah tempat balasan. Ujian bisa berupa kesenangan
dan kesusahan, dan ia dihadapi dengan syukur dan sabar.
Harakah
Islamiyyah memandang ujian dan musibah di jalan dakwah dengan pandangan Islami;
ujian merupakan sunnatullah yang tidak pernah berhenti dan meleset. Para da’i
dituntut untuk menyampaikan dakwah kepada manusia, membangun kembali kehidupan
yang Islami, dan mendirikan daulah Islamiyyah. Sudah barang tentu hal ini
membuat para eksekutif dan penguasa bekerja keras untuk melanggengkan kekuasaan
mereka dan menumpahkan kemarahan mereka pada para da’i dalam bentuk
penganiayaan. Yang dituntut dari pada da’i adalah sabar menghadapi hal itu,
tidak mundur dari menunaikan tugas, betapapun situasi dan kondisinya sedemikian
keras. Mereka harus tetap menjalankan kewajiban mereka hingga mencapai tujuan,
atau Allah mengaruniai mereka kesyahidan.
Ujian dan
musibah di jalan dakwah dianggap sebagai bekal bagi para da‘i, cahaya yang
menyinari jalan bagi mereka dan kelompok lain, dan stimulus bagi orang-orang
yang tertimpa ujian untuk teguh di atas kebenaran, mengikuti petunjuknya sampai
Allah memutuskan perkara. Kepada Allah jua segala urusan dikembalikan.
Ujian dapat
melahirkan satu generasi yang jujur kepada Tuhannya, jujur terhadap dirinya
sendiri, jujur terhadap manusia, ikhlas dan bersih, pemberani dan tidak pernah
surut langkah, teguh dan tidak pernah goyah dari tujuan-tujuannya, serta
generasi yang religius dan memiliki hubungan yang kuat dengan Allah dan
KitabNya.
B A B III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Dengan
membahas semua ini, penulis berharap pembaca mampu memahami semua aspek-aspek
dari beberapa organisasi-organisasi yang telah di jabarkan di atas. Sudah
selayaknya kita mengetahui organisasi ini jauh lebih dalam hingga ke
akar-akarnya,terutama sejarah berdirinya dan beberapa pemikiran-pemikiran yang
mereka cetuskan.
Organisasi-organisasi
ini membangun Indonesia agar lebih maju dalam bidang ilmu pengetahuan.
Organisasi yang sudah kita ketahui di pembahasan tadi mempunyai pemikiran dan
tujuan yang sama, hanya saja beberapa aspek sosial, politik dan budaya yang
sedikit berbeda. Seperti Muhammadiyah yang tujuan utamanya adalah mengembalikan seluruh penyimpangan yang terjadi dalam proses dakwah. Penyimpangan ini
sering menyebabkan ajaran Islam bercampur-baur dengan kebiasaan di daerah tertentu
dengan alasan
adaptasi.
3.2. SARAN
Walapun
makalah ini telah di uasahakn penyusunuannya secermat mungkin, namun tidak
tertutup kemungkinan masih banyak kekurangan dan kesalahan baik dari segi
penjelasan ataupun penulisannya. Oeh karena itu, dengan kerendahan hati penulis
mengharapkan kritik yang sifatnya konstruktif serta koreksi dari pembaca yang
budiman. Dan semoga makalah ini bisa membawa kemanfaatan.






0 komentar:
Posting Komentar