MAKALAH
KOTA WISATA BATU
DOSEN : AGUNG SUPROJO,S.Kom.,MAP
MATA
KULIAH :PWN
Disusun
oleh
HAMZAN
WADI
2013110022
FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGA DEWI
MALANG
2013
KATA
PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulisan panjatkan kehadirat Allah
SWT,atas berkat,rahmat dan ridhonya sehingga penulis dapat menyelesikan makalah
ini. Adapun maksud penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari mata
kuliah pancasila.
Dalam makalah ini, penulisan menyadari bahwa hasil yang dicapi
mansih jauh dari sempurna, terdapat banyak kekurangan, baik dari segi penyajian
meteri maupun tata bahasa penulisan. Oleh karna itu penuli sangat berterima
kasih atas keritik dan saran yang bersifat membangun dalam perbaikan serta
koreksi bagi penulis.
Akhir kata penulis persembahkan makalah ini agar dapat
bermamfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.
Malang,
21 Desember 2013
Penulis
1.LATAR BELAKANG
Kota
Batu adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini terletak 15 km sebelah barat Kota Malang, berada di jalur Malang-Kediri dan Malang-Jombang.
Kota Batu berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan di sebelah utara serta dengan Kabupaten Malang di sebelah timur, selatan, dan barat. Wilayah kota ini
berada di ketinggian 680-1.200 meter dari permukaan laut dengan suhu udara
rata-rata 15-19 derajat Celsius.
Kota Batu memiliki peluang untuk lebih
dikembangkan sebagai daerah wisata yang lebih menarik, hal ini didasarkan pada
kondisi alam dan letak geografis yang sangat mendukung. Atraksi wisata di Kota
Batu dibuat berbeda antara satu dengan lainya sehingga tidak terjadi persaingan
yang cukup berarti. Sumber daya wisata yang dimiliki oleh Kota Batu cukup
beragam dan dapat dengan mudah ditemui karena lokasinya yang relatif berdekatan.
Hal ini semakin diperkuat setelah pemerintah kota Batu dengan gencar.
Coban ini berada di ketinggian
sekitar 1025 m dpl di lereng Gunung Panderman. Dulunya coban ini bernama
Coban Sabrangan yang berarti jika hendak ke coban ini harus menyebrang 14 sungai
.Coban Rais Adalah jalan bertanah dengan diselingi rerumputan di kanan atau
kiri jalan yang menyambut kami ketika berjalan kaki. Areal parkir yang cukup
luas "dihiasi" dengan para pedagang kaki lima yang sedang berjualan
di sekitarnya. Mulai cilok, bakso, es rujak manis ada di sana. Coban Rais
memiliki ketinggian terjunan sekitar 20 m dan merupakan salah satu obyek wisata
air terjun di kota Batu.. maka kami berangkat menuju lokasi yang sudah ada
petunjuknya, yakni jalan makadam (jalan tanah/bebatuan) yang dikhususkan untuk
pejalan kaki. Suasana cukup ramai ketika kami berjalan beriringan. Karena
sesekali bebarengan dengan dengan serombongan teman-teman di universitas yang
sedang melakukan kegiatan diklat versi alam.
Jalan tanah mendatar sangat mudah untuk dilalui, ditambah aneka tetumbuhan yang beragam jenis banyak tumbuh di sekitarnya. Sehingga tampak warna khas hijau dedaunan menjadi pemandangan yang lazim di tempat ini. Nampak pula di kejauhan,beberapa bukit yang cukup tinggi menjulang dengan hiasan rindang hijau aneka tumbuhan. Sekian lama kami berjalan menempuh jalanan tanah yang berbatu, nampak ada semacam sungai kecil di sebelah kami. Sungai yang nampaknya sengaja dibuat untuk mempermudah akan kebutuhan akan air segar. Hal itu diperkuat dengan adanya beberapa pipa-pipa besi yang sempat menyembul keluar di bawah tanah. Namun tak lama kemudian, jalanan tanah yang kami ikuti itu berubah "bentuk". Yang semula mudah dilewati, kini malah berubah menjadi jalan setapak sempit yang agak susah dilewati dengan kondisi sedikit menanjak.
Jalan tanah mendatar sangat mudah untuk dilalui, ditambah aneka tetumbuhan yang beragam jenis banyak tumbuh di sekitarnya. Sehingga tampak warna khas hijau dedaunan menjadi pemandangan yang lazim di tempat ini. Nampak pula di kejauhan,beberapa bukit yang cukup tinggi menjulang dengan hiasan rindang hijau aneka tumbuhan. Sekian lama kami berjalan menempuh jalanan tanah yang berbatu, nampak ada semacam sungai kecil di sebelah kami. Sungai yang nampaknya sengaja dibuat untuk mempermudah akan kebutuhan akan air segar. Hal itu diperkuat dengan adanya beberapa pipa-pipa besi yang sempat menyembul keluar di bawah tanah. Namun tak lama kemudian, jalanan tanah yang kami ikuti itu berubah "bentuk". Yang semula mudah dilewati, kini malah berubah menjadi jalan setapak sempit yang agak susah dilewati dengan kondisi sedikit menanjak.
Sejarah
kota batu adalah Sejak abad ke-10, wilayah Batu dan sekitarnya telah dikenal
sebagai tempat peristirahatan bagi kalangan keluarga kerajaan, karena wilayah
adalah daerah pegunungan dengan kesejukan udara yang nyaman, juga didukung oleh
keindahan pemandangan alam sebagai ciri khas daerah pegunungan.
Pada
waktu pemerintahan Raja Sindok , seorang petinggi Kerajaan bernama Mpu Supo
diperintah Raja Sendok untuk membangun tempat peristirahatan keluarga kerajaan
di pegunungan yang didekatnya terdapat mata air. Dengan upaya yang keras,
akhirnya Mpu Supo menemukan suatu kawasan yang sekarang lebih dikenal sebagai
kawasan Wisata Songgoriti.
Atas persetujuan Raja, Mpu Supo yang
konon kabarnya juga sakti mandraguna itu mulai membangun kawasan Songgoriti
sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan serta dibangunnya sebuah candi
yang diberi nama Candi Supo.
Ditempat
peristirahatan tersebut terdapat sumber mata air yang mengalir dingin dan sejuk
seperti semua mata air di wilayah pegunungan. Mata air dingin tersebut sering
digunakan mencuci keris-keris yang bertuah sebagai benda pusaka dari kerajaan
Sendok. Oleh karena sumber mata air yang sering digunakan untuk mencuci
benda-benda kerajaan yang bertuah dan mempunyai kekuatan supranatural (Magic)
yang maha dasyat, akhirnya sumber mata air yang semula terasa dingin dan sejuk
akhirnya berubah menjadi sumber air panas. Dan sumberair panas itupun sampai
saat ini menjadi sumber abadi di kawasan Wisata Songgoriti.
Wilayah
Kota Batu yang terletak di dataran tinggi di kaki Gunung Panderman dengan
ketinggian 700 sampai 1100 meter di atas permukaan laut, berdasarkan
kisah-kisah orang tua maupun dokumen yang ada maupun yang dilacak
keberadaannya, sampai saat ini belum diketahui kepastiannya tentang kapan nama
"B A T U" mulai disebut untuk menamai kawasan peristirahatan tersebut.
Dari
beberapa pemuka masyarakat setempat memang pernah mengisahkan bahwa sebutan
Batu berasal dari nama seorang ulama pengikut Pangeran Diponegoro yang bernama
Abu Ghonaim atau disebut sebagai Kyai Gubug Angin yang selanjutnya masyarakat
setempat akrab menyebutnya dengan panggilan Mbah Wastu. Dari kebiasaan kultur
Jawa yang sering memperpendek dan mempersingkat mengenai sebutan nama seseorang
yang dirasa terlalu panjang, juga agar lebih singkat penyebutannya serta lebih
cepat bila memanggil seseorang, akhirnya lambat laun sebutan Mbah Wastu
dipanggil Mbah Tu menjadi Mbatu atau batu sebagai sebutan yang digunakan untuk
Kota Dingin di Jawa Timur.
Sedikit
menengok ke belakang tentang sejarah keberadaan Abu Ghonaim sebagai cikal bakal
serta orang yang dikenal sebagai pemuka masyarakat yang memulai babat alas dan
dipakai sebagai inspirasi dari sebutan wilayah Batu, sebenarnya Abu Ghonaim
sendiri adalah berasal dari JawaTengah. Abu Ghonaim sebagai pengikut Pangeran
Diponegoro yang setia, dengan sengaja meninggalkan daerah asalnya Jawa Tengah
dan hijrah dikaki Gunung Panderman untuk menghindari pengejaran dan penangkapan
dari serdadu Belanda (Kompeni)
Abu
Ghonaim atau Mbah Wastu yang memulai kehidupan barunya bersama dengan
masyarakat yang ada sebelumnya serta ikut berbagi rasa, pengetahuan dan ajaran
yang diperolehnya semasa menjadi pengikut Pangeran Diponegoro. Akhirnya banyak
penduduk dan sekitarnya dan masyarakat yang lain berdatangan dan menetap untuk
berguru, menuntut ilmu serta belajar agama kepada Mbah Wastu.
Bermula
mereka hidup dalam kelompok (komunitas) di daerah Bumiaji, Sisir dan Temas
akhirnya lambat laun komunitasnya semakin besar dan banyak serta menjadi suatu
masyarakat yang ramai.
Sebagai
layaknya Wilayah Pegunungan yang wilayahnya subur, Batu dan sekitarnya juga
memiliki Panorama Alam yang indah dan berudara sejuk, tentunya hal ini akan
menarik minat masyarakat lain untuk mengunjungi dan menikmati Batu sebagai
kawasan pegunungan yang mempunyai daya tarik tersendiri. Untuk itulah di awal
abad 19 Batu berkembang menjadi daerah tujuan wisata, khususnya orang-orang
Belanda, sehingga orang-orang Belanda itupun membangun tempat-tempat
Peristirahatan (Villa) bahkan bermukim di Batu.
Situs
dan bangunan-bangunan peninggalan Belanda atau semasa Pemerintahan Hindia
Belanda itupun masih berbekas bahkan menjadi aset dan kunjungan Wisata hingga
saat ini. Begitu kagumnya Bangsa Belanda atas keindahan dan keelokan Batu,
sehingga bangsa Belanda mensejajarkan wilayah Batu dengan sebuah negara di
Eropa yaitu Switzerland dan memberikan predikat sebagai De Klein Switzerland
atau Swiss kecil di Pulau Jawa.
Peninggalan
arsitektur dengan nuansa dan corak Eropa pada penjajahan Belanda dalam bentuk
sebuah bangunan yang ada saat ini serta panorama alam yang indah di kawasan
Batu sempat membuat Bapak Proklamator sebagai The Father Foundation of
Indonesia yaitu Bung Karno dan Bung Hatta setelah Perang Kemerdekaan untuk
mengunjungi dan beristirahat di kawasan Selecta Batu
Batu
juga dikenal sebagai kawasan agropolitan, sehingga mendapat julukan Kota Agropolitan. Seperti
halnya kawasan Malang Raya dan sekitarnya, Batu banyak menghasilkan apel, sayur
mayur, dan bawang putih. Batu juga dikenal sebagai kota seniman. Ada banyak sanggar
lukis dan galeri seni di kota ini. Yang terbaru Batu Night Spectaculer,
merupakan taman hiburan remaja dengan beberapa wahana mirip di Dunia Fantasi
Ancol Jakarta. Tidak kalah menarik dari BNS / Batu Night Spectaculer, ada juga
tempat Pariwisata pelajar dan Keluarga yaitu Museum Satwa. Museum yang Bertaraf
Internasional dan bergaya Yunani ini adalah museum dimana replika Satwa di
Dunia yang belum punah dan yang sudah punah ada di sini. Kita juga bisa melihat
replika kerangka hewan purba. Di Museum Satwa ini juga pernah menjadi tempat
pengambilan Video Clip lagu dari The Virgin dengan lagunya Belahan Jiwa. Berbagai sarana kegiatan luar
ruang banyak tersedia, yang paling lengkap adalah BEJI outbound yang terletak
di Desa Beji.
2. BUDAYA
A.
Budaya batu
adalah Irama instrumen musik Jaran Kepang sayup-sayup terdengar dari
Masjid An Nur Kota Batu, Rabu (4/5). Maklum, masjid kebanggaan masyarakat Batu
itu berada persis di depan alun-alun Kota Batu yang tengah menggelar pesta
kesenian rakyat. Masyarakat pun menyemut memenuhi alun-alun. Sebuah pemandangan
yang tidak umum mengingat Jaran Kepang merupakan seni tradisional yang mulai
ditinggalkan.Terang saja, pentas Jaran Kepang itu merupakan bagian dari gebyar
peresmian alun-alun Batu yang digelar tujuh hari non stop awal Mei lalu. Gebyar
itu mementaskan delapan belas kesenian, baik tradisional maupun kontemporer,
dalam sepekan.
Dimulai dengan giring seribu bola
dan minum susu seribu botol pada Senin (2/5), acara itu berlanjut dengan ludruk
humor, reog show, parade band, jaran kepang, gebyar campur sari, musik
alternatif dan wayang kulit. Diikuti dengan selamatan, pawai tumpeng dan
jajanan pasar, tari sembromo masal, pesta kembang api, jalan sehat dan lomba
foto gedung kesenian. Sangat memuaskan publik asli Batu yang haus akan hiburan
meski tinggal di Kota Wisata. Terbukti dari padatnya alun-alun tersebut dalam
sepekan hingga arus menuju pusat kota Batu dialihkan.
Sikap pemerintah layak diapresiasi
dalam pelibatan setidaknya tujuh pementasan seni tradisional dalam gebyar tersebut
di tengah sepinya hiruk-pikuk kesenian Batu. Didik Sumintardjo, sekretaris
jenderal Dewan Kesenian Kota Batu, mengaku kesenian Batu memang tengah mati
suri. Artinya, eksistensi seni tradisional Batu bersifat individual, misal seni
rupa mampu bertahan karena mampu “menghidupi” diri sendiri. Kesimpulan Didik
itu menjawab eksistensi seni tradisional bila dibanding dengan yang bersifat
group atau kelompok. Seni rupa memungkinkan eksis selama dia mempunyai jaringan
kerja.
Batu Kaya
akan Seni TariPadahal, terang Didik, masyarakat
Batu sangat memiliki jiwa seni. Terbukti dari adanya kelompok Seni Tari
Bantengan, Jaran Kepang (sentherewe dan pegon), Reog Ponorogo, Wayangan,
Tayuban dan Seni Pencak. “Kesenian pencak tradisional yang dulu hanya berpusat
di Kelurahan Sisir dan Junrejo, sekarang setiap desa bahkan sudah ada
perkumpulan pencak,” ungkap Didik saat ditemui Newsletter SimpulDemokrasi,
Minggu (8/5) di rumahnya Desa Bumiaji.
Dalam seni kontemporer, masyarakat
Batu aktif bergiat dalam Seni Dansa Modern, Terbang Jidor, Orkes Dangdut,
Organ Tunggal dan Banjari. Jiwa seni masyarakat Batu juga melekat dalam bidang
seni rupa. Kata Didik, Batu sendiri merupakan gudangnya seni lukis. Banyak
pelukis papan atas seperti Kubu Surawan, Badri, dan Slamet Hendricus. Selain
itu, seni landscaping (menyetel pertamanan) dan handycraft juga ikut mewarnai
seni di Kota Batu.
Bahkan, imbuh Didik, Pemkot Batu
seharusnya bangga dengan mengkampanyekan Tari Sembromo ke luar daerah karena
merupakan seni asli masyarakat Batu. Soal Tari Sembromo, Pemkot Batu terfokus
sebagai sajian pelengkap dalam pentas menyambut tamu penting dari pusat.
Didik mendorong agar masyarakat Batu
mengenal lebih dalam Tari Sembromo tersebut. Meski, ada tari-tari lain yang tak
kalah orisinil dibanding Tari Sembromo. Yakni Tari Pring Lurik dan Mban Endrek
yang merupakan improvisasi atas seni yang telah ada. Artinya, Tari Pring Lurik
dan Mban Endrek merupakan hasil pengembangan dan modifikasi para pecinta seni
setempat.
Namun, menurut Didik, peran aktif
pemerintah untuk mendongkrak popularitas Tari Sembromo masih kurang. Terbukti
dari even perlombaan yang hampir tidak pernah menyentuh Tari Sembromo. Praktis,
tidak ada perubahan sama sekali. Kondisi itu berbeda dengan Tari Dolalak
(tarian khas daerah Purworejo) yang sering dipentaskan sehingga menjadi icon
sebuah daerah. “Jadi, sebuah tarian itu sebaiknya difestivalkan biar fashion
dan fun-nya dapat. Barangkali itu yang perlu kita kembangkan bersama di Kota
Batu ini,” ujar Didik.
B. budaya Barat adalah dalah digunakan sangat luas untuk merujuk pada warisan norma-norma
sosial, nilai-nilai etika, adat istiadat,
keyakinan agama, artefak budaya khusus, serta teknologi.dan Secara spesifik. istilah budaya Barat dapat ditujukan
terhadap:
·
Pengaruh budaya Klasik dan Renaisans Yunani-Romawi dalam hal seni, filsafat, sastra, dan tema hukum dan tradisi, dampak sosial budaya dari periode
migrasi dan warisan budaya Keltik, Jermanik, Romanik, Slavik, dan kelompok etnis lainnya, serta dalam hal tradisi rasionalisme dalam berbagai bidang kehidupan yang dikembangkan
oleh filosofi Helenistik, skolastisisme,humanisme, revolusi
ilmiah dan pencerahan, dan termasuk pula pemikiran
politik, argumen rasional umum yang mendukungkebebasan berpikir, hak
asasi manusia, kesetaraan dan nilai-nilai demokrasi yang menentang irasionalitas dan teokrasi.
·
Pengaruh budaya Alkitab-Kristiani dalam
hal pemikiran rohani, adat dan dalam tradisi etika atau moral, selama
masa Pasca Klasik.
·
Pengaruh budaya Eropa
Barat dalam hal seni, musik, cerita
rakyat, etika dan tradisi lisan, dengan tema-tema yang dikembangkan lebih
lanjut selama masa Romantisisme.
Konsep budaya Barat umumnya terkait dengan definisi klasik dari Dunia
Barat. Dalam definisi ini, kebudayaan
Barat adalah himpunansastra, sains, politik,
serta prinsip-prinsip artistik dan filosofi yang membedakannya dari peradaban lain. Sebagian besar rangkaian tradisi dan pengetahuan
tersebut umumnya telah dikumpulkan dalam kanon Barat. Istilah ini juga telah dihubungkan dengan negara-negara
yang sejarahnya amat dipengaruhi oleh imigrasi atau kolonisasi orang-orang
Eropa, misalnya seperti negara-negara di benua
Amerika dan Australasia, dan tidak terbatas hanya oleh imigran dari Eropa
Barat. Eropa Tengah juga
dianggap sebagai penyumbang unsur-unsur asli dari kebudayaan Barat.
Beberapa kecenderungan yang dianggap mendefinisikan masyarakat Barat moderen, antara lain dengan adanya pluralisme
politik, berbagai subkultur atau budaya tandingan penting (seperti gerakan-gerakan Zaman
Baru), serta peningkatan sinkretisme budaya sebagai akibat dari globalisasi dan migrasi
manusia.
3. KESIMPULAN
Wilayah
Kota Batu yang terletak di dataran tinggi di kaki Gunung Panderman dengan
ketinggian 700 sampai 1100 meter di atas permukaan laut, berdasarkan
kisah-kisah orang tua maupun dokumen yang ada maupun yang dilacak
keberadaannya, sampai saat ini belum diketahui kepastiannya tentang kapan nama batu
mulai disebut untuk menamai kawasan peristirahatan tersebut.
Sedangkan
sejarah kota batu Sejak abad ke-10, wilayah Batu dan sekitarnya telah dikenal
sebagai tempat peristirahatan bagi kalangan keluarga kerajaan, karena wilayah
adalah daerah pegunungan dengan kesejukan udara yang nyaman, juga didukung oleh
keindahan pemandangan alam sebagai ciri khas daerah pegunungan.
Pada
waktu pemerintahan Raja Sindok , seorang petinggi Kerajaan bernama Mpu Supo
diperintah Raja Sendok untuk membangun tempat peristirahatan keluarga kerajaan
di pegunungan yang didekatnya terdapat mata air. Dengan upaya yang keras,
akhirnya Mpu Supo menemukan suatu kawasan yang sekarang lebih dikenal sebagai
kawasan Wisata Songgoriti.
Atas persetujuan Raja, Mpu Supo yang
konon kabarnya juga sakti mandraguna itu mulai membangun kawasan Songgoriti
sebagai tempat peristirahatan keluarga kerajaan serta dibangunnya sebuah candi
yang diberi nama Candi Supo.
Konsep
yang mau dilakukan adalah dalam perkembangan saat ini tidak dapat
dipungkiri bahwa kegiatan berwisata di kota batu sudah menjadi kebutuhan
sekunder bagi setiap orang. Semakin padatnya aktivitas yang dilakukan seseorang
akan berimbas pada besarnya kebutuhan untuk mendapatkan hiburan yang menyenangkan
untuk melepaskan penat dari rutinitas sehari-hari ataupun sekedar berkumpul
bersama keluarga. Hal ini menjadi peluang bagi pelaku usaha pariwisata untuk
dapat menyediakan sarana dan prasarana pariwisata biar semakin banyak dari
tingginya kenaikan setiap tahun jumlah kedatangan wisatawan kota batu.
Sektor pariwisata merupakan sektor
yang strategis karena dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian dan
menciptakan lapangan kerja di saat krisis finansial di indonesia dan
ketidakpastian perekonomian di indonesia, mendorong dan untuk menciptakan
lapangan kerja, perkembangan investasi, peningkatan pendapatan masyarakat,
serta penerimaan keuangan Negara.sedangkan di kota batu ini melakukan budaya
luar pasti di kota batu ini tidak bias maju t atau cepat hacur dan jugak yang berkujung
cepat bosen keparawisata di kota batu ini, Sedangkan kalok pakek budaya di kota
batu ini tidak bias cepat hancur untuk membubarkan parawisata di kota batu ini.kalok
pendatang dari luar negeri dia mencari bage mana budaya periwisata kota
batu,itu maksut luar negeri berkunjung ke periwisata.






0 komentar:
Posting Komentar